Emansipasi atau Kemuliaan Wanita

Download PDF
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa : 32)
Sebuah hadits menceritakan bahwa pada suatu hari datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah seraya berkata: “Ya Rasululah, saya ini utusan kaum perempuan datang menghadap kepadamu untuk bertanya: ‘Perintah jihad itu diberikan kepada kaum lelaki, jika mereka terluka mereka mendapat pahala, dan jika syahid mereka tetap hidup (di alam barzah) dan mendapat rizky disisi Tuhan mereka sedangkan kami kaum wanita hanya diam di rumah melayani mereka, maka bagaimana nasib kami ini?’ Rasulullah menjawab: “Sampaikanlah kepada seluruh kaum wanita bahwa jika mereka taat kepada suami mereka dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka terhadap suami mereka, maka kaum wanita akan mendapatkan segala pahala yang diberikan kepada kaum lelaki tersebut, tetapi sangat sedikit dari kaum wanita yang melakukannya dengan baik”. (HR. Thabrani dan al Bazzar)
Dari pernyataan diatas dapat dilihat bahwa emansipasi wanita bukan berarti persamaan dalam semua bidang, tetapi persamaan dalam nilai dan pahala dimana jika wanita melakukan tugas dan kewajibannya yang sesuai dengan fitrah kewanitaannya, maka dia akan mendapatkan pahala dan nilai yang sama dengan kaum lelaki yang menjalankan tugas dan kewajibannya seperti berjihad di dalam medan perang. Hadis diatas yang memberikan penekanan bahwa ketaatan istri kepada suami, dan mengurus rumah tangga sedangkan suami keluar berjihad, bukan berarti merendahkan kedudukan seorang wanita, sebab wanita tersebut berada di rumah juga sedang menjalankan sebuah kewajiban dan tanggungjawab, sebagaimana seorang lelaki yang berperang dan berjihad juga menjalankan sebuah tangungjawab, sehingga kemuliaan seseorang bukan pada dimana dia berada, apa profesi yang dilakukannya, tetapi tergantung bagaimana dia menjalankan kewajiban dan tugas yang telah diberikan kepadanya.

Seorang istri duduk di rumah, mengurus rumah tangga, bukan berarti menjadikan rumah sebagai penjara bagi istri, tetapi merupakan pembagian tugas dalam sebuah keluarga, dimana suami bekerja di luar rumah, sedangkan istri mengurus anak-anak, mengurus rumah tangga sehingga keluarnya suami dari rumah mencari rizky tidak menganggu suasana dalam rumah. Dalam islam, pekerjaan istri di dalam rumah bukanlah suatu kehinaan, tetapi merupakan suatu kemuliaan.
Diriwayatkan bahwa seorang lelaki mendatangi kediaman khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan akhlak istrinya. Sesampai disana, dia mendengar istri khalifah sedang memarahi Khalifah Umar bin Khattab, dan khalifah hanya diam mendengarkan keluhan istrinya. Akhirnya dia pulang sambil berkata dalam hatinya: “Khalifah saja diam mendengarkan keluhan istrinya, maka bagaimana dengan diriku?”. Tak lama kemudian, khalifah Umar keluar, memanggilnya dan bertanya: “Apa keperluanmu?” Lelaki itu menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, saya datang dengan maksud ingin mengadukan perlakuan istriku kepada diriku, tetapi setelah aku mendegar suara isterimu memarahimu dan engkau tetap diam mendengarkannya, maka aku berkata pada diriku, jika amirul mukminin saja sabar atas kemarahan istrinya, maka kenapa aku harus tidak sabar dengan istriku”. Mendengar itu Khalifah Umar bin Khattab berkata: “Wahai saudaraku, sesungguhnya saya bersabar, karena memang istri mempunyai hak atasku. Dialah yang telah memasak makanan buatku, mencuci pakaianku, menyusui anak-anakku, padahal semuanya itu tidak diwajibkan atasnya. Disamping itu, dia telah mendamaikan hatiku untuk tidak terjerumus kepada perbuatan yang diharamkan. Oleh karena itu, aku bersabar atas segala pengorbanannya”. “Wahai Amirul Mukminin, istrikupun demikian, kata lelaki itu. Umar pun menasehatinya: “Bersabarlah wahai saudaraku, karena kemarahan istrimu itu hanya sebentar”. Demikianlah kemuliaan istri dalam Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab terhadap istrinya.
Bagi sebagian orang, jika ada seorang wanita yang meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk di rumah melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk menjaga anak-anaknya, maka perempuan tersebut dianggap sebagai pahlawan, sebab berani meninggalkan suatu pekerjaan yang mempunyai nilai ekonomis demi untuk masuk ke dalam rumah mengurus anak-anak. Pilihan tersebut bagi mereka merupakan sebuah pengorbanan seorang istri yang lebih mengutamakan pendidikan anak-anak di rumah daripada kerja yang mempunyai gaji. Bagi mereka pendidikan anak-anak di rumah dan mengurus rumah tangga lebih baik daripada pekerjaan di luar rumah.
Namun sangat disayangkan sikap masyarakat yang begitu memuliakan istri di dalam rumah tersebut hilang oleh slogan emansipasi. Mereka hanya meneriakkan emansipasi wanita, hak-hak wanita untuk keluar rumah, tanpa memikirkan kewajiban seorang wanita. Kita sepatutnya sadar, bahwa slogan tersebut sengaja dihembuskan kepada masyarakat muslim, agar institusi keluarga masyarakat muslim itu hancur, yang berakibat dapat melahirkan generasi yang tidak terdidik dengan baik, sehingga umat Islam di masa depan menjadi umat Islam yang tidak memiliki kekuatan.
Seorang wanita bisa saja aktif di dalam pekerjaan atau masyarakat tanpa harus meningalkan tanggungjawab sebagai istri, dan ibu rumah tangga. Wanita yang mengetahui sebuah kemuliaan adalah wanita yang tetap bekerja, tetap bermasyarakat dan juga tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. Sangat aneh, jika wanita dengan bangganya ingin menuntut hak persamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam segala bidang. Jika mengetahui, wanita sangat dimuliakan oleh Islam, bahkan sampai dalam Al Qur’an pun ada surat An Nisaa (wanita). Tujuan emansipasi wanita adalah “to undermine traditional family values”, untuk menghancurkan nilai-nilai keluarga masyarakat tradisional. Semoga kita sadar bahwa slogan emansipasi adalah slogan untuk menghancurkan nilai-nilai wanita bukan untuk kemuliaan wanita, sebab Islam telah menjamin kemuliaan wanita tanpa harus mengorbankan hak-hak keluarga.
Download PDF